Satuan Gramatikal Kalimat dalam Sintaksis Bahasa dan Sastra Indonesia






BAB I
PENDAHULUAN
 
A. Latar Belakang
       Ilmu bahasa mengalami perkembangan terus-menerus sesuai dengan perkembangan fenomena berbahasa masyarakat. Perkembangan ini membawa konsekuensi bagi perubahan paradigma dalam memandang hakikat bahasa. Berbedanya cara pandang melihat bahasa mengakibatkan berbedanya cara mengkaji bahasa, memperlakukan bahasa, dan membelajarkan bahasa. Dengan demikian, cara pandang yang berbeda terhadap hakikat bahasa berimplikasi pada perbedaan desain pengajaran bahasa, termasuk materi ajar bahasa.
          Teorisasi ilmu bahasa mutakhir dapat dipetakan menjadi 2 mazhab besar, yakni orientasi formalisme versus fungsionalisme. Teori formalisme diwakili oleh Tata Bahasa Tranformatif Generatif Chomsky menurut Valin dalam (Miftahul, 2015:1). Dari sudut pandang formalisme, bahasa adalah ‘seperangkat deskripsi struktural kalimat’. Deskripsi struktural inilah yang menentukan keutuhan makna dari ekspresi bahasa menurut Valin dalam (Miftahul, 2015:1). Berbeda dengan formalisme, menurut teori fungsional, strutur ditentukan oleh fungsi bahasa dalam kehidupan manusia. Struktur bahasa bukan hnya dianggap sebagai jaringan unsur-unsur, melainkan sebgai jaringan fungsi. Semua satuan bahasa terkait dan tirut serta menciptakan konteks sosial.
          Bahasa terdiri dari dua lapisan, yaitu lapisan bentuk dan lapisan arti yang dinyatakan oleh bentuk itu. Bentuk bahasa terdiri dari satuan-satuan yang dapat dibedakan menjadi dua satuan, yaitu satuan fonologik dan satuan gramatik. Satuan fonologik meliputi fonem dan suku, sedangkan satuan gramatik meliputi wacana, kalimat, frase, klausa, kata, morfem. Dalam makalah ini akan dibicarakan masalah kalimat. untuk itu penulis ingin membahas secara rinci tentang kalimat 

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian kalimat?
2. Bagaimana jenis kalimat berdasarkan kalimat aktif?
3. Bagaimana jenis kalimat berdasarkan kalimat pasif?
4. Bagaimana jenis kalimat berdasarkan kategori predikatnya?
5. Bagaimana jenis kalimat berdasarkan jumlah klausa?
6. Bagaimana jenis kalimat berdasarkan modusnya?

C. Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini yaitu;
1. Untuk mengetahui pengertian kalimat.
2. Untuk mengetahui jenis kalimat berdasarkan kalimat aktif.
3. Untuk mengetahui jenis kalimat berdasarkan kalimat pasif.
4. Untuk mengetahui jenis kalimat berdasarkan kategori predikatnya.
5. Untuk mengetahui jenis kalimat berdasarkan jumlah klausa.
6. Untuk mengetahui jenis kalimat berdasarkan modusnya.

D. Tujuan
1. Mendeskripsikan pengertian kalimat.
2. Mendeskripsikan jenis kalimat berdasarkan kalimat aktif.
3. Mendeskripsikan jenis kalimat berdasarkan kalimat pasif.
4. Mendeskripsikan jenis kalimat berdasarkan kategori predikatnya.
5. Mendeskripsikan jenis kalimat berdasarkan jumlah klausa.
6. Mendeskripsikan jenis kalimat berdasarkan modusnya 

BAB II 
PEMBAHASAN
 
A. Pengertian kalimat.
        Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif dapat berdiri sendiri, yang mempunyai pola intonasi akhir dan yang terdiri atas klausa menurut Cook (dalam Tarigan, 2009: 5). Satuan bahasa itu membentuk hierarkis, mulai dari kata, frasa, kalimat, klausa, gugusan kalimat, paragraf, gugusan paragraf, sampai wacana. Akan tetapi tataran itu tidak statis karna kadang-kadang terjadi (1) pelompatan tataran, (2) penurunan, dan (3) penyematan menurut Kridalaksana (dalam Miftahul dan Sakura, 2015: 146).
        Kalimat ada yang terdiri dari satu kata, misalnya Ah!; Kemarin, ada yang terdiri dari dua kata, misalnya Itu toko; Ia mahasiswa; ada yang terdiri dari tiga kata. Misalnya Ia sedang membaca; Mereka akan berangkat; dan ada yang terdiri dari empat, lima, enam kata dan seterusnya. Sesungguhnya yang menetukan satuan kalimat bukannya banyaknya kata yang menjadi unsurnya, melainkan intonasinya. Setiap satuan kalimat dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turunan atau naik. Menurut Sutan Takdir Alisyahbana/STA (Suhardi, 2013: 61-62), merumuskan batasan kalimat sebagai satuan kumpulan kata-kata yang terkecil dan mengandung pikiran lengkap. Maksud dari pikiran yang lengkap adalah informasi atau maksud yang jelas. Sementara yang dimaksud dengan satuan kumpulan kata-kata terkecil adalah memenuhi syarat sebagai bangun kalimat yang telah ditetapkan dalam kaidah-kaidah berbahasa. Jika dua hal ini telah dipenuhi., STA menggolongkannya ke dalam hal yang disebut sebagai kalimat.
       Sedangkan Sutan Muhammad Zein (Suhardi, 2013: 62), memberikan batasan kalimat satuan sebagai susunan kata-kata yang disusun atas sistem yang berlaku dan berguna untuk menyampaikan maksud atau buah pikiran si pembicara pada lawan bicaranya. Batasan kalimat yang dikemukakan Sutan Muhammad Zein ini lebih mengarah kepada bahasa lisan. Selain itu dari pandangan Sutan Muhammad Zein tersebut terkandung unsur-unsur yang membangun kalimat. Unsur tersebut adalah kata-kata sistem. atau kaidah, dan maksud/pikiran. Jika ketiga unsur ini ada, menurut Zein dapat dikelompokkan sebagai kalimat
      Fokker (Suhardi, 2013: 62), merumuskan batasan kalimat sebagai ucapan bahasa yang memiliki arti penuh (pikiran atau maksud) dan turunnya suara menjadi cirinya sebagai batas keseluruhan. Fokker memberikan ciri-ciri sebuah kalimat adalah ucapan atau bahasa, yang memiliki pikiran, memiliki maksud dan ditandai turunnya suara. Jika memenuhi keempat syarat tersebut, dapat digolongkan ke dalam hal yang disebut kalimat.  C.A. Mees (Suhardi, 2013: 62), merumuskan batasan kalimat sebagai kata-kata yang teratur, menyatakan buah pikiran seseorang dengan cukup jelas untuk mereka yang mengetahui bahasanya. Berdasarkan pandangan Mees tersebut, tersirat bahwa kalimat disusun atas kata-kata yang teratur dan berisi buah pikiran seseorang
         Anton M Moeliono (Suhardi, 2013: 63), memberikan batasan kalimat sebagai bagian terkecil ujaran atau teks yang mengungkapkan pikiran atau utuh secara ketatabahasaan. Rumusan yang dikemukakan Moeliono ini lebih menekankan bahwa kalimat adalah bagian ujaran yang mengungkapkan pikiran secara utuh.

B. Jenis Kalimat Berdasarkan Kalimat Aktif
Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya berperan sebagai perilaku atau aktor menurut Cook (dalam Tarigan, 2009: 14).
Contoh:
Bahasa Indonesia:
Saya menulis surat.
Kamu mencangkul kebun
Dia memanggil nenek
Ibu makan nasi
Ayah minum kopi.
Kalimat aktif adalah kalimat yang di dahului oleh peran aktor (subjek berperan sebagai pelaku atau pengalam).
Contoh:
a. Delapan      mentri perwakilan pemerintah 
    Pelaku        (S/aktor) 

    mengikuti                       rapat kerja DPR.
    perbuatan (p)                Sasaran (0/undergoer) 

b. Mereka              telah mendengar desisan                 ular tersebut
    Pelaku                (S/aktor) pengalaman (p)               sasaran (0/undergeor)

C. Jenis kalimat berdasarkan kalimat pasif
Kalimat pasif adalah kalimat yang subyeknya berperan sebagai penderita menurut Cook (Tarigan, 2009: 15)
contoh :
Bahasa Indonesia:
Surat itu telah kutulis.
Kebun itu kau cangkul.
Nenek dipanggil oleh adik.
Nasi itu sudah dimakan oleh ibu.
Kopi itu diminum oleh ayah.
Kalimat pasif adalah kalimat yang didahului oleh undergoer (subjek berperan sebagai sasaran, hasil, atau peruntungan). 

D. Jenis kalimat berdasarkan kategori predikatnya
 
1. Kalimat Nominal
Yakni kalimat yang predikatnya berkategori nomina, atau dibentuk dari sebuah klausa nominal dan intonasi final. Contoh:
- Orang itu   Petani
         S            p
Contoh lain:
- Pak Yusuf guru SMP
- Kera itu binatang primata
Catatan:
(1) Antara S pan P dapat diberi kata pemisah adalah, jadi, menjadi, atau merupakan
(2) Persyaratan untuk kategori nomina yang bisa menjadi S dan P

2. Kalimat Ajektifal
Yakni kalimat yang predikatnya berkategori ajektifa, dibentuk dari sebuah klausa ajektifal dan intonasi final.
Contoh:
- Siska    Cantik sekali
      S                P
Contoh lain;
- Rumahnya Beras
- Pakian mereka kontor-kotong

3. Kalimat Preposisional
Yakni kalimat yang predikatnya berupa frase preposisional, atau dibentuk dari sebuah klausa preposisional dan intonasi final.
- Guru kami     Dari Medan
          S                  P
Contoh lain:
- Mereka dari Banda Aceh
- Anak-anak itu di masjid
Catatan:
Dalam bahasa formal harus dimunculkan predikat verbalnya, sehingga frase preposisionalnya hanya menjadi pengisi fungsi keterangan.

4. Kalimat Numeral
Yakni kalimat yang predikat berupa frase numeral, dibentuk dari sebuah klausa numeral dan intonasi final. Contoh:
- Gaji beliau     lima juta   sebulan.
          S                 P              Ket.
Contoh lain:
- Anaknya sembilan orang.
- Jaraknya dua kilometer dari sini.

E. K alimat berdasarkan jumlah klausa 
 
1. Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri dari atas satu klausa bebas tanpa klausa terikat meenurut Cook dalam (Tarigan, 2009: 6)
Contoh:
Bahasa Indonesia
Saya makan
Dia pergi
Elinor rajin

2. Kalimat Bersusun
Kalimat bersusun adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa bebas dan sekurang-kurangnya satu klausa terikat cook dalam (Tarigan, 2009: 6).
Contoh
Bahasa Indonesia
Dia pergi sebelum kami bangun
Kami mau datang kalau mereka pergi

3. Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri atas beberapa klausa bebas
Contoh
Bahasa Indonesia
Dia mengambil sebuah buku dari dalam lemari, kemudian membacanya sampai tamat.

Kalimat Majemuk
Menurut Suhardi (2013: 74-79) mengatakan bahwa kalimat majemuk adalah kalimat yang memiliki beberapa predikat atau dibangun atas beberapa klausa. Berdasrkan bentuk klausa yang membangunnya, kalimat majemuk dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu (1) kalimat majemuk setara, (2) kalimat majemuk bertingkat, (3) kalimat majemuk campuran, dan (4) kalimat majemuk rapatan.
1) Kalimat majemuk setara 
Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang dibangun atas dua kalimat tunggal. Kedua kalimat tersebut memiliki predikat yang kedudukannya sejajar (setara) di dalam kalimat. Biasanya kalimat majemuk setara menggunakan kata hubung: dan, tetapi, atau.
Contoh:
a. Ani belajar dan Budi membaca koran.
b. Dia tidak belajar tetapi mengobrol di kelas.
c. Kamu suka yang ini atau kamu suka yang itu?
2) Kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat majemuk yang dibangun atas dua kalimat tunggal. Kedua kalimat tunggal tersebut memiliki kedudukan yang berbeda. Biasanya dibangun atas dua, yaitu anak kalimat dan induk kalimat. Letak anak kalimat dapat berada setelah induk kalimat atau boleh juga mendahului induk kalimat.
Contoh (anak kalimat berada setelah induk kalimat):
a. Ia sudah duduk di rumah ketika saya kembali dari kampus.
b. Saya akan menunaikan ibadah haji ke Mekkah jika saya memiliki uang cukup.
Contoh (anak kalimat mendahului induk kalimat):
a. Ketika saya kembali dari kampus, Ali sudah menunggu di depan rumah saya.
b. Jika saya memiliki uang cukup, saya akan menunaikan ibadah haji ke Mekkah.
3) Kalimat majemuk campuran
Kalimat majemuk campuran adalah kalimat majemuk yang dibangun atas campuran beberapa kalimat majemuk (setara dan bertingkat).
Contoh:
a. Amir berangkat ke sekolah dan Meri pergi ke kantor ketika rombongan guru-guru SMAN 6 datang.
b. Acara pembukaan pelatihan itu tertunda beberapa jam sebab rombongan Pak Camat datang terlambat sehingga acara itu ditutup menjelang sore.
4) Kalimat majemuk rapatan
Kalimat majemuk rapatan adalah kalimat majemuk yang salah satu unsurnya hilang (merapat)
a. Bapak membaca surat kabar Batam Post.
b. Adik membaca surat kabar Batam Post.
Kalimat (a) dan (b) di atas dapat dibentuk menjadi kalimat majemuk rapatan dengan cara menghilangkan salah satu unsur yang sama, sehingga menjadi.
Bapak dan adik membaca surat kabar Batam Post.
Kesamaan unsur yang terjadi dalam kalimat majemuk rapatan dapat saja terjadi kesamaan subjek, predikat, objek atau keterangan
1) Kesamaan subjek
a. Kakak memasak gulai kambing.
b. Kakak merangkai bunga.
* Kakak memasak gulai kambing dan merangkai bunga.
2) Kesamaan predikat
a. Bapak menanam pohon.
b. Ibu menanam pohon.
* Bapak dan Ibu menanam pohon dan bunga
3) Kesamaan objek
a. Adik menyepak bola.
b. Amir menyepak bola.
* Adik dan Amir menyepak bola.
4) Kesamaaan keterangan
a. Rudi belajar di sekolah.
b. Budi belajar di sekolah.
* Rudi dan Budi belajar di sekolah. 

F. jenis kalimat berdasarkan modusnya
 
1. Bermodus Deklaratif
Kalimat deklaratif adalah kalimat yang berisi penyataan dari seseorang mengenai fakta di sekitarnya. Kalimat deklaratif ini tentu saja diberikan dalam kalimat langsung.
Contoh:
- Siska berkata “ sekarang saya sudah bekerja”
2. Bermodus interogratif
Kalimat interogratif adalah kalimat yang diucapkan seseorang untuk mengetahui sesuati yang belum diketahuinya kepada orang lain yang ditanya.
Contoh:
- Kepala sekolah bertanya kepada saya, “mengapa kamu belum membayar SPP?”
3. Bermodus Imperatif
Kalimat imperatif adalah kalimat yang berisi peritah atau berisi larangan yang harus dilakukan atau tidak dilakukan oleh orang yang mendengarkannya.
Contoh:
- Kata ibu kepada Ali, “Ali tolong ambilkan ibu air minum”
4. Bermodus interjektif
Kalimat interjektif adalah kalimat yang berisi satuan berkenaan dengan emosi pengujar.
Contoh
- Siska tiba –tiba mengeluh “Aduh, kepalaku sakit sekali” 

Menurut Suhardi (2013: 77-79), klasifikasi kalimat berdasarkan makna atau maksud, dikelompokkan menjadi lima jenis yaitu sebagai berikut.
1. Kalimat Berita
Kalimat berita adalah kalimat yang di dalamnya berisi berita atau suatu informasi kepada orang lain. Ciri-ciri kalimat berita biasanya di akhir kalimat menggunakan tanda titik (.)
Contoh:
a. Gempa Tasikmalaya menyebabkan beberapa keluarga kehilangan tempat tinggal.
b. Rombongan Gubernur Kepri Ismet Abdullah melaksanakan kegiatan Safari Ramadhan di daerah Jemaja.
c. Sebuah Kapal Super Ferry yang mengangkut 964 penumpang tenggelam di perairan Filiphina
2. Kalimat Perintah
Kalimat perintah adalah kalimat yang di dalamnya berisi perintah dari seseorang kepada orang lain agar melakukan sesuatu (pekerjaan) sesuai apa yang diperintahkan. Kalimat perintah biasanya di akhir kalimat menggunakan tanda seru (!)
Contoh:
a. Ambilkan saya buku itu!
b. Mohon Saudara keluar dari ruang ini!
c. Kerjakan soal nomor 1 hingga 10!
3. Kalimat Tanya
Kalimat tanya adalah kalimat yang meminta orang lain untuk menjawab sesuai dengan pertanyaan yang diajukan. Biasanya di akhir kalimat menggunakan tanda tanya (?)
Contoh:
a. Jam berapa dia pulang kerja?
b. Siapa yang menulis surat ini?
c. Kapan kamu kembali lagi ke sini?
4. Kalimat Seru
Kalimat seru adalah kalimat yang di dalamnya terdapat kata seru, seperti wah, yah, ih, aduh dan sebagainya.
Contoh:
a. Wah! cantiknya lukisan itu.
b. Aduh! Saya lupa membawa tugasmu itu.
c. Amboi! Suaramu indah sekali.
5. Kalimat Penegasan
Kalimat penegasan adalah kalimat yang di dalamnya berisi penegasan atau tambahan informasi sehingga informasi yang disampaikan lebih jelas oleh lawan bicara. Dengan adanya penegasan, sesuatu yang diinginkan lawan bicara akan dapat dilaksanakan lebih cepat.
Contoh:
a. Sesuai hasil kesepakatan kita kemarin, maka semua sumbangan sudah terkumpul paling lambat hari ini.
b. Dari hasil kesepakatan kita ini, maka silahkan para peserta menginformasikan kepada kelompoknya masing-masing.
c. Berdasarkan hasil kesepakatan para importir buah di Kota Batam beberapa bulan lalu, maka dipastikan harga buah di Kota Batam tidak akan naik.


BAB III
PENUTUP
 
A. Kesimpulan
Bentuk bahasa terdiri dari satuan-satuan yang dapat dibedakan menjadi dua satuan, yaitu satuan fonologik dan satuan gramatik. Satuan fonologik meliputi fonem dan suku, sedangkan satuan gramatik meliputi wacana, kalimat, frase, klausa, kata, morfem. Dalam makalah ini akan dibicarakan masalah kalimat.
B. Saran
Banyaknya jenis-jenis dalam suatu kalimat terkadang mampu membingungkan para pembaca. Kurangnya referensi menjadi penyebabnya. Penulis telah berusaha untuk menjelaskan dan mendeskripsikan tentang kalimat dan semoga bermanfaat bagi pembaca. 

DAFTAR PUSTAKA
 
Suhardi. 2013. Dasar-Dasar Ilmu Sintaksis Bahasa Indonesia. Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA
Khairah, Miftahul dan Sakura Ridwan. 2015. Sintaksis Memahami Satuan Kalimat Perspektif fungsi. Jakarta: Bumi Aksara
Tarigan, Henry Guntur. 2009. Prinsip-prinsip Dasar Sintaksis. Bandung: Angkasa

Komentar

Postingan Populer